Aktif!!!

Sebenernya rasanya aneh karena judulnya “aktif” karena sebenarnya diriku gak pernah aktif :p Emang, dulu sekitar tahun 2012 waktu lagi krisis identitas karena akhirnya mau masuk ke jenjang pendidikan tertinggi, aku suka banget update sampai masuk dalam kategori 4l4y. Senang banget update status rasa drabble di FB (gue ngerasa kasian sama temen-temen gue yang dulu sempet baca status gue di beranda btw). Apalagi mengingat dulu juga pernah ikutan SJFF Academy, akademi menulis di facebook, dan aktif mengerjakan seluruh tugasnya. Gue pernah jadi juara dua juga di situ sangking aktifnya 😛 Meskipun udah dari SD kelas 6 mencantumkan kata “novelis” di cita-cita, baru tahun 2012lah gue bener-bener masuk ke dalam dunia kepenulisan.

Nah, sayangnya, itu cuma berlangsung sekitar 1,5 tahun. Berhubung karena diriku emang manusia yang anget-anget tai ayam, kerajinan menulis juga makin menghilang seiring dengan selesainya akademi online itu. Masuk kuliah cuma ampas-ampasnya doang passion nulis, ngerjain tugas kampus aja mikir kok. Paling barter juga ngerjain skrip film, itu pun juga akibat tugas haha. Anyway~ berhubung karena aku anak Ilmu Komunikasi yang katanya sih berfokus pada penyiaran artistik, cita-citaku juga agak sedikit berubah jadi penulis novel jadi penulis skenario. Kebetulan skenarioku juga pernah dijadiin film sebagai tugas kampus dan dua kali di filmkan untuk proyek lomba. Satu film bahkan menang juara harapan di Yamaha Blue Core tahun 2016 ^^

Nah sekarang, di penghujung tahun 2016, akhirnya anak manusia yang bentar lagi nyerempet angka 23 akhirnya sudah lulus kuli-ah dan sudah lulus dari status pengangguran. Akhirnya mendapatkan dream job-ku setelah pencarian selama 2 bulan yaitu pekerjaan sebagai creative di salah satu PH di JKT 48 (LOL NOPE). Literally baru kerja dua minggu sih, tapi bisalah dibilang akhirnya gue mencapai titik kehidupan dimana akhirnya bisa dianggap sebagai manusia dewasa yang (rencananya) mampu hidup dengan mandiri (meskipun belum gajian haha).

Selama dua minggu kerja disini, aku kembali evaluasi diri lagi. Entah kenapa setelah mendapatkan kenyataan vs reality di dunia kerja, aku malah jadi pengen menulis novel lagi. Oke, itu lebay karena kenyataannya emang gak pernah nulis novel dan “hanya” menulis cerpen, but you know what I mean. Untuk mencapai cita-cita sebagai script writer masih jauh di ujung jalan sana, apalagi dengan kenyataan bahwa penulis freelance biasanya bisa dilakukan setelah pengalaman bertahun-tahun. Mungkin gak tepat di bilang sebagai putar balik, tapi untuk menjaga kesehatan mental karena merasa belum bisa masuk ke dunia itu, aku teringat lagi cita-citaku jadi penulis cerita.

So here I am. Berusaha kembali menguatkan keinginan untuk jadi penulis dengan mencoba aktif. Tentu aja aku sendiri gak punya jadwal tetap untuk terbitin tulisan di blog, tapi dengan beban kerja yang saat ini masih cukup jinak, aku rasa waktu untuk nulis pasti ada. Tinggal kemauan untuk menulis aja J

Jadi, silahkan menunggu di web ini. Mungkin akan ada sesuatu yang menarik ketika kamu datang kembali ke sini ^^

Iklan

Vhira dan Ardityo

“Argh!”
Tyo mengangkat kepalanya dari buku yang ia baca. Matanya terpancang di satu titik. Vhira.
“Kenapa?” suara serak khas orang yang sudah lama tak berbicara keluar dari kerongkongan Tyo. Lelaki itu menautkan alisnya ketika melihat si pipi chuby menatap galak kepadanya.
“Punya mata kan buat liat bukunya pada jatoh? Bantuin dong!” titah Vhira sambil menunjuk buku-buku yang berserakan di sekitarnya. Ck, tipikal anak kelas 10. Berlagak rajin belajar sampai baca buku banyak-banyak, batin Tyo kesal. Tapi tetap saja ia menyeret kakinya dan membantu teman ‘kecil’nya yang mulai menggerutu.
Entah, apa anak seusia Vhira masih bisa di bilang kecil? Ia sudah 15 tahun, februari nanti 16 tahun. Saat ini mereka juga sama-sama SMA. Vhira bukan lagi bocah SMP.
“Gitu kek dari tadi! Berat tahu!” runtuk gadis berkuncir lagi. Tyo menoyor keras kepalanya.
“Diem, bocah. Mau di bantuin nggak? Lagian gaya amat bawa buku banyak.”
“Sakit, monyet!”

-8 Desember 2012 pukul 22:06-

***Sang Antagonis***

Risha dan Lukas

“Ah, aku jadi kangen masa SMA,” desah Risha. Mata cokelatnya memandangi dua orang yang dengan bar-barnya berebut bola orange. Tyo dan Vhero, adik mereka berdua yang masih SMA dengan lincah berduel di lapangan basket. Mereka bergantian mendrible, menembak ke ting dan tentu saja saling mencuri bola dengan ganas. Lincah bagaikan monyet.
Ah, masa SMA. Risha jadi melamun mengingatnya. Masa-masa dimana dia bisa bolos, saling lempar-lemparan dan bertindak khas ABG. Namun sekarang itu masa lalunya. Kini ia sudah kuliah. Mau ikut bermain seheboh itu rasanya malu sama umur.
“Gaya, baru semester tiga udah ngomong begitu!” sentak Lukas menyebalkan. Lelaki itu menyeringai kala Risha mendengus. Lelaki ini… bisa diam tidak sih?
“Terus? Harus bilang WOW karena Lukas Valentin sekarang semester 5?” balasnya sinis. Mukanya kesal sekali.
Lukas menarik bibirnya, menyeringai. Gadis di hadapannya menarik untuk di goda. Insting setannya seketika bekerja.
“Tyo!”
“Apa?”
“Ajakin Tante Risha maen basket gih! Katanya kangen masa muda!”
WHAT?!

-9 Desember 2012 pukul 0:36-

***Sang Antagonis***

Sleepy

21.45.
Sebuah kuapan lolos dari mulutku. Ini masih terlalu dini, bagiku, untuk pergi ke alam mimpi. Biasanya hingga matahari terbit lagipun aku masih terjaga. Tapi entah kenapa hari ini mataku terasa berat. Seolah langit malam menimpa indera penglihatanku dengan gelap.
Air mata kantuk mengumpul, sesekali menetes dari ujung mataku yang lelah. Cairan yang mengaliri pipiku seperti memberi tahu bahwa sang mata sudah lelah membantuku menghadapi dunia.
Napasku mulai melambat. Ritmenya semakin tenang beraturan, begitu juga jantungku yang kini berdetak nyaman. Kutarik napasku dalam-dalam. Udara yang kutarik berefek seperti obat bius. Terasa melegakan meskipun di sisi lain terasa berat.
Jendela duniaku semakin menyempit. Pandanganku semakin buram dan tak terfokus. Kemudian mereka mulai menutup tanpa komando.
Sekujur tubuhku terasa rileks dan ringan, tak ada lagi berat yang membebani raga duniaku. Kemudian kesadaranku semakin menjauh, terbang membawaku ke dunia mimpi.

Selamat… malam….

 

***Sang Antagonis***

Acacia dan Chance

“Turun!”
“Tidak mau, bodoh!” Acacia menjulurkan lidahnya. Chance memutar bola matanya jengah.
“Dari sini aku bisa melihat celana dalammu, bodoh. Turun!” ejek Chance. Lelaki itu menyeringai kala melihat Acacia heboh merapikan roknya. Ck, sudah terlihat. Chance sendiri sampai deg-degan.
“Berhenti melihatku! Kukutuk kau nanti!”
Chance melebarkan senyumnya. Wajah favoritnya memerah malu. Semerah cela… astaga, apa yang ia pikirkan?
“Sudah turun. Tak perlu sembunyi. Wajahmu semakin jelek saja kalau menangis!”
Bungkam, gadis bermata ungu itu mengusap wajahnya. Terlihat kah? Ya, Acacia memang menangis kala orang tuanya menamparnya. Entah apa salahnya ia juga tak tahu. Tapi hatinya hancur, ia terluka. Mengingatnya membuat mata Acacia kembali berkabut.
Senyum menyebalkan Chance menghilang. Sinar mata jahilnya meredup. Gadisnya menjatuhkan kristal matanya lagi. Chance hanya mengulurkan tangannya ke atas. Tanpa senyum, namun matanya teduh. Hangat.
“Turunlah, aku ingin kau menangis di pelukanku!”

-12 Desember 2012 pukul 20:25-

***Sang Antagonis***

Angin

“Kau tahu apa itu angin?” Gadis itu merentangkan tangannya, menikmati angin pantai yang meniupkan helaian rambut hitamnya.

“Angin itu adalah udara yang bergerak. Angin selalu berhembus tanpa henti, tanpa kenal lelah dan tanpa pemberitahuan. Angin berhembus ke segala arah. Arah manapun yang mengajaknya untuk pergi maka kesanalah ia akan beranjak.

Ada kalanya angin membawa kesejukan, kadangkala angin malah datang membawa murka yang menghancurkan dunia. Ia seringkali datang dalam diam, namun kadang ia membisikan kedatangannya hingga orang menyadari keberadaannya.

Tak ada yang bisa memahami mengapa angin berhembus,alasan mengapa angin berubah arah atau mengapa angin tak bisa berada di satu tempat saja. Bahkan ada saatnya angin tak memahami alasannya berhembus.

Dulu aku pernah bertanya kepada angin: ‘Wahai angin! Mengapa kau tak tinggal? Mengapa kau selau pergi dan berhembus entah kemana?’

Angin menjawab: ‘Karena aku adalah udara yang kesepian. Aku… tak mengerti alasan kehadiranku sendiri.”

 

-13 April 2013 pukul 23:44-

***Sang Antagonis***

Just another draft

“Apa yang kau lakukan diatas sana?”

Kalau diingat-ingat, itu adalah kali pertamanya Luna berbicara pada Bimasakti. Meskipun berada dalam satu kelas yang sama selama dua tahun masa SMA, itu sama sekali tidak menjamin dua individu jadi mengenal satu sama lain. Selama ini, Bimasakti yang pendiam, tidak punya teman dan tanpa ekspresi hanyalah bagian dari latar belakang dari kehidupan Luna yang penuh dengan warna. Baginya, Bimasakti tidak ada bedanya dengan coretan-coretan grafiti yang hanya perlu di lihat sebentar sebelum dilupakan keberadaannya di perjalanan hidupnya yang panjang.

Namun saat mata cokelat muda sendu dalam balutan air mata itu balas menatapnya, gadis itu sadar ia tidak bisa mengalihkan matanya lagi. Hatinya sudah tercuri dalam sepuluh detik dalam diam yang menyesakkan itu. Entah ini rasa kasihan, sekedar rasa kemanusiannya saja atau malah lebih daripada itu, Luna juga tidak tahu. Tapi setidaknya ia mengerti satu hal yang pasti. Luna tidak akan pernah lagi bisa mengabaikan keberadaan Bimasakti, teman sebangkunya yang nyaris melompat dari atap gedung lantai lima.

 

PS: I DO wish to have time and motivation to make this story. I wish have enough willpower to do it ._. Anyway, don’t ask me when I will Finish this story. Even I don’t know when 😛
PSS: No copas okay?

 

 

-4 September 2014 pukul 1:59-

***Sang Antagonis***